Kamis, 21 Juli 2016

TYPICAL FOOD SUNDA

Galendo is one type of food or which includes typical snacks from the town of Ciamis, West Java. Galendo a crust in the form of food produced from coconut milk cooked for hours. These foods are usually used as gifts or souvenirs of the visitors who come to town Ciamis. Perhaps some readers of this article are still many who do not know galendo food is like, but the name is now very terkrnal galendo almost throughout the territory. These foods have different flavors, from strawberry-flavored, chocolate, flavored milk and too many other flavors. To make a typical Galendo Ciamis material that does not require very much, even just coconuts needed to make Galendo. But, this time we will make a cake that is made from galendo.

HOW TO MAKE

 
Material :

     6 egg whites
     100 gr galendo
     100 gr flour
     1/4 teaspoon salt
     enough water
     100 gr sugar
     100 gr margarine


Recipe Baking Galendo Typical Ciamis:

     prepare a container for making dough
     enter the egg, sugar and margarine and whipped with a mixer until well blended
     galendo enter into the flour and mix ingredients that have shaken stir until a dough that fit
     keadonan enter into the mold to the shape and size according to taste
     bake in the oven over medium heat, wait until done approximately for 20 minutes
     remove from oven and let stand until cool and galendo cake ready to be served

To Prescription How To Create A typical Galendo Ciamis can be combined with a variety of fruit flavors or flavor cocoa. This cake tudak consumed only for families but can also be sold or small business.

Selasa, 19 Juli 2016

Mesut Özil is Muslim


 Nama lengkap Mesut Özil


Tanggal lahir 15 Oktober 1988 (umur 27)
Tempat lahir Gelsenkirchen, Jerman Barat
Tinggi 1.81 m (5 ft 11 in)





Mesut Özil was born and raised in Gelsenkirchen, Germany.
Özil is of Turkish descent and, as such, he is Muslim. Furthermore, Özil’s faith is quite important to him and part of his pre-game ritual, praying and reciting verses of the Qur’an before the pitch. He said:
I always do that before I go out [on the pitch]. I pray and my teammates know that they cannot talk to me during this brief period.1
There are aspects of Özil’s faith that conflict with his career. For example, during the holy month of Ramadan, when devout Muslims do not eat or drink during the daytime, Özil feels that he has no choice to not follow the ritual and just do his best. He said:
Because of my job I cannot follow Ramadan properly. I do it only the few days I can, only when I have a free day. But other than that it’s impossible, because you have to drink and eat a lot to stay at peak fitness.2
Some clerics and imams have expressed disapproval at this approach,3 but Özil seems to have his mind made up, and as far as the Hollowverse is concerned, he’s a devout Muslim.

Integrative politics

Post-war Germany, largely decimated by the Allies, invited Turks to immigrate under a label called “gastarbeiter,” or guest worker, to assist in reconstruction efforts. Roughly 50 years later, Germany has (what some may call) a race war on its hands.4 So problematic has this situation become that even at the highest levels of German government, officials are shaking their head in dismay. Chancellor Angela Merkel said once:
And of course, the approach [to build] a multicultural [society] and to live side-by-side and to enjoy each other… has failed, utterly failed.5
This is a complex issue, with native (white) Germans feeling that the country is becoming “overrun with foreigners”6 and those of Turkish descent lashing out at what seems like their second-class status. Many refuse to work or learn the German language, and crime rates are higher in Turkish neighborhoods. German officials have considered importing native Turkish police forces to deal with the problem.7
So, you can imagine Özil, a representative of the nation of Germany during soccer matches between countries (World Cup, European Cup) and a Turkish Muslim, must walk a fine line. Well, he’s done a great job, apparently. The German media, whose annual awards are called the Bambi Awards, gave Özil a Bambi for being a “prime example of successful integration into German society.”8 He said:
This is a great honor for me and I’m very happy. Integration creates something new and makes for a more colorful Germany.9
Perhaps it is a good thing, but who are we to judge. I would speculate that members of the Turkish-German community consider Özil a traitor for being accepted and recognized within mainstream German society. Such is the nature of humanity.

memandang Tuhan dalam segelas kopi

photo(2)Pencarian yang paling serius manusia sepanjang sejarah adalah pencarian Tuhan atau mencari eksistensi Tuhan yang bisa benar-benar dikenal sehingga akan bisa disembah dan dicintai dengan benar. Konsep Tuhan pada semua agama adalah sama, bahwa Dia adalah pencipta seluruh alam, mengatur segalanya dan Dia ada Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat, kekuatan super diluar kemampuan manusia. Seluruh manusia tanpa kecuali menyadari ada sesuatu diluar dirinya yang mempunyai kekuatan luar biasa, kekuatan itu kemudian disebut Tuhan.

Karena keterbatasan manusia, maka apapun gambaran tentang Tuhan merupakan hasil dari imajinasi dan pemikirannya sehingga diseluruh dunia konsep tentang Tuhan berbeda-beda. Di dalam Islam sendiri pemahaman tentang Tuhan juga berbeda walaupun pada hakikatnya sama. Syariat yang merupakan hukum tertulis tentang agama hanya bisa menjelaskan tentang “ciri-ciri” Tuhan, kita hanya bisa diajarkan tentang nama-nama-Nya (asmaul husna), tentang sifat-sifat-Nya namun ketika sampai pembasahan kepada Dzat Allah Yang Maha Agung, maka syariat akan menjadi buntu. Guru-guru yang belajar agama hanya pada tataran lahiriah tidak bisa menjelaskan kepada kita secara memuaskan tentang Dzat Allah, maka cara yang paling mudah untuk menenangkan para murid adalah dengan argument-argumen yang menyatakan bahwa Dzat Allah tidak boleh ditanyakan sama sekali.

Kenapa demikian, karena memang syariat bukanlah ilmu yang bisa digunakan agar manusia sampai kepada Dzat Allah, syariat hanya menjelaskan kepada kita tentang konsep Ketuhanan, sifat dan namanya yang kemudian dikenal dengan ilmu Tauhid, ilmu Meng-Esa-kan Tuhan. Ilmu yang bisa mengantarkan manusia kepada Dzat Allah adalah ilmu tasawuf. Karena ilmu tasawuf sangat halus dan dikhawatirkan bisa dipahami secara keliru, maka diperlukan penyambung antara ilmu syariat dan tasawuf sebagai ilmu hakikat, penyambung itu lah ilmu tauhid.

Belajar ilmu tauhid tanpa belajar tasawuf lewat bimbingan Guru Mursyid tidak ada bedanya dengan belajar ilmu filsafat yang juga mengajarkan konsep Ketuhanan yang pada akhirnya akan berujung kepada pencarian tanpa batas atau ujung.

Di kalangan sufi, mereka tidak lagi berbicara tentang “mengenal”, tapi sudah pada tahap jatuh cinta, rindu, mabuk akan Tuhan yang kesemua itu bisa kita baca pada karya-karya sufi klasik seperti Abu Yazid al-Bisthami, Rabi’ah al-Adawiyah, Jalaludin Rumi dan lain-lain. Tidak mungkin manusia bisa sampai kepada tahap Mabuk kepada Tuhan sebelum dia benar-benar pernah meminum anggur Tuhan. Jatuh cinta secara mendalam seperti yang diungkapkan oleh para tokoh sufi hanya bisa terjadi pada orang yang sudah mengenal Tuhan secara sempurna, memandang wajah-Nya dan berkomunikasi dengan mesra lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya setiap saat.

Bagaimana mungkin kita bisa jatuh cinta pada sosok Abstrak yang tidak dikenal sama sekali, pada sosok yang konon kabarnya berada di langit sana. Karena meyakini Tuhan berada di langit barangkali yang menyebabkan manusia setiap berdoa wajahnya memandang ke atas. Kalau kita bahas langit secara hakikat, tentu saja bukan langit yang Nampak biru ketika siang dan hitam ketika malam, karena di langit itu tidak ada apa-apa selain awan, bintang, planet dan galaksi.

Waktu saya kecil, ada seorang ulama yang sangat tidak percaya bahkan menolak dengan keras tentang kemampuan manusia sampai ke bulan. Beliau menjelaskan bahwa langit itu ada pintu dan setiap pintu di jaga oleh malaikat dengan demikian tidak mungkin orang kafir yang tidak pernah mengambil wudhuk bisa melawati pintu langit yang di jaga malaikat. Setelah saya berguru kepada seorang Auliya Allah dan melakukan suluk, baru saya paham perbedaan antara langit tempat berada arwah para Nabi dengan langit zahir yang terlihat setiap hari. Jadi langit 7 lapis yang dimaksud oleh Nabi bukanlah langit yang terlihat.

Pencarian Tuhan lewat akal pikiran dan perenungan hanya bisa membawa kita kepada keyakinan bahwa Tuhan itu memang ada di dunia ini, namun untuk bisa sampai kehadirat-Nya diperlukan seorang Master, Pembimbing yang sudah berulang kali bolak balik kesana sehingga jalan yang kita tempuh bukan jalan keliru yang membawa kita kepada kesesatan.

Tidak mungkin manusia  yang tercipta bisa sampai kepada Sang Pencipta, tidak mungkin manusia yang baharu sampai kepada Allah yang Maha Qadim, kecuali lewat bimbingan para Nabi dan Para Wali yang diberi ilmu oleh Allah unuk membimbing manusia kejalan-Nya. Tujuan Tuhan menurunkan agama tidak lain agar manusia bisa mengenal dan berkomunikasi sempurna dengan Allah, sehingga manusia mengetahui dengan pasti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan kepada dirinya.

Satu hal yang harus di pahami bahwa ibadah, shalat dan lain-lain bukanlah sarana untuk mengenal Allah, ibadah adalah sarana untuk menyembah-Nya, tentu saja untuk bisa menyembah terlebih dahulu kita harus mengenal yang kita sembah agar penyembahan kita tidak keliru.

Kalau sampai hari ini di dalam ibadah kita tidak menemukan getaran Ilahi, tidak berefek apa-apa pada jasmani dan rohani kita berarti adalah yang salah dalam ibadah yang kita lakukan. Agama pada hakikatnya adalah ilmu eksak, ilmu pasti bukan ilmu menduga atau mencoba-coba. Kalau Rasulullah SAW, Para sahabat bisa akrab dengan Tuhan memakai suatu ilmu tentu saja ketika kita memakai ilmu dan rumus yang sama maka hasilnya akan sama, itu PASTI.

Ketika belum sampai kepada tahap PASTI, berarti kita baru belajar agama secara zahir yang bisa dipelajari oleh siapapun karena pelajaran agama zahir merupakan pelajaran akal pikiran yang akan hilang ketika manusia meninggal dunia. Manusia harus meng-upgrade ilmu agamanya sehingga bukan hanya jasmaninya yang beragama tapi juga rohani karena nanti yang kembali kepada Allah bukanlah jasmani tapi rohani.

Ketika manusia belum mengenal Allah, dalam ibadah formal yang sangat tenang sekalipun dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa selain kekosongan dan kehampaan serta menduga-duga bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah.

Ketika ilmu agamanya telah di upgrade dibawah bimbingan Guru Yang Ahli, dan ketika kita telah mengenal Tuhan dengan sebenar kenal tanpa keraguan sedikitpun, maka dimanapun kita bisa menjumpai-Nya, tidak hanya ketika melakukan ibadah formal saja, ketika menghirup segelas kopi pun akan ada wajah-Nya disana…

children who are the backbone of the family

PAHALA MENAFKAHI KELUARGA

 

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kepada setiap kepala keluarga, perhatikanlah kabar-kabar gembira yang menunjukkan betapa besar nikmat Allah subhanahu wata'aala untukmu! Betapa sempurnanya karunia dan pemberian yang dikaruniakan-Nya atasmu! Dia telah mengaruniaimu keturunan yang dengannya dapat menghiasi kehidupanmu, melapangkan dadamu dan memperbanyak keturunanmu, serta menambah pahalamu kelak di akhirat.!

Kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari rizki, beratnya beban tanggung jawab yang melelahkan dan debu-debu tanah yang menempel seakan begitu berat, tampak di wajahmu dalam perjuangan (jihad) terbesar dan ibadah paling mulia bagimu itu. Karenanya, janganlah bersedih! Itu adalah Sunnatul Hayah (tradisi kehidupan). Di situlah, kamu dicetak dan dengannya kamu diciptakan. Namun bagi orang yang memahami syariat Allah subhanahu wata'aala, maka hal itu menjadi demikian manis dan baik, sementara bagi orang yang menentang syariat-Nya, maka itu menjadi kesengsaraan dan kesia-siaan.

Keutamaan Memberi Nafkah Keluarga ...

Hanya orang yang jiwa kelelakiannya telah terpatri dalam hatinyalah yang dapat bersedih atas keluh-kesah keluarganya. Dan dalam hal ini, sama saja antara seorang budak dan orang merdeka, seorang Mukmin dan orang kafir. Hanya saja, seorang Mukmin yang tulus menjadikan jalan keluar atas keluh-kesah keluarganya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala dan sebagai sarana mencari ganjaran dan pahala dariNya, karena ia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'aala telah menjadikannya pemimpin atas keluarganya dan telah memerinci mengenai hal itu dalam sebuah firman-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alahi wasallam, Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarga di rumahnya, dan ia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya itu."(Muttafaqun 'alaih).

Allah subhanahu wata'aala juga menjanjikan pahala yang agung baginya dan keutamaan yang besar atas nafkah yang dikeluarkan dan perawatannya bagi anak-anaknya. Dari Sa'd radhiallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alahi wasallam berkata kepadanya,"Sesungguhnya, sebesar apapun nafkah yang engkau keluarkan atas keluargamu, maka engkau diberi pahala (atas hal itu), sekali pun sesuap yang engkau sodorkan ke mulut isterimu." (HR.al-Bukhari)

Dalam hadits yang lain, dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu `anhu, ia berkata, "Pernah suatu ketika, seorang laki-laki melintas di hadapan Nabi shallallahu 'alahi wasallam, lalu para shahabat beliau melihat betapa keuletan dan semangat orang itu, sehingga membuat mereka kagum, lalu mereka berkata, Wahai Rasulullah, andaikata hal ini termasuk di jalan Allah subhanahu wata aala.?" Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, 'Jika ia keluar untuk berusaha menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk di jalan Allah subhanahu wata'aala. Dan jika ia keluar untuk berusaha dengan penuh riya` dan kesombongan, maka itu termasuk di jalan setan." (Shahih al-Jami', 2/8)

Dalam salah satu peperangan, pernah Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata kepada teman-temannya, "Tahukah kalian suatu amalan yang lebih utama dari apa yang kita lakukan saat ini (berperang).?" Mereka menjawab, "Kami tidak mengetahui hal itu." Ia berkata, "Aku tahu itu." Mereka mendesak, "Apa itu.?" Ia menjawab, "Laki-laki suci yang memiliki tanggungan keluarga, shalat di malam hari, lalu memandangi anak-anaknya yang sedang tidur dalam keadaan aurat tersingkap, lalu ia menyelimuti dan menutupi mereka dengan pakaiannya. Maka, amalannya itu adalah lebih utama dari kondisi kita ini."

Bagi yang menjadi tulang punggung keluarga! Hendaknya bergembira karena dijanjikan surga oleh Rasulullah subhanahu wata'aala, yakni selama kamu berada di dalam Jihad Tarbiyah, saat kamu menanggung bebannya, bersabar ataskeletihan yang dirasakan dan berjuang melawan kesulitan-kesulitannya! Bila kamu merasa permasalahanmu demikian pelik dan seakan membuat frustasi, maka lihatlah karunia yang diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadamu.Ketika itu, pasti kamu akan merasakan kesabaran memenuhi seluruh relung-relung hatimu, menghapus kesedihanmu, dan memantapkan langkahmu untuk menempuh celah-celah Tarbiyah.

Ingatlah, terkadang para pesedekah mengeluarkan sedekahnya sekali dalam setahun, atau sekali dalam sebulan. Tapi kamu? Dengan mendidik keluarga dan mereka yang berada di bawah tanggunganmu, kamu adalah pesedekah abadi; dengan harta, jiwa, kasih sayang dan kebapakanmu! Dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Miqdam radhiallahu `anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Makanan yang kamu berikan kepada dirimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan kepada isterimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan untuk pelayanmu, maka itu sedekah untukmu." (Shahih Ibn Majah, 1739)

Janganlah bersedih, lihatlah bagaimana Allah subhanahu wata'aala mengaruniaimu dua kali nikmat:

a.. Pertama, Saat Dia menganugerahimu keluarga yang bisa jadi Dia tidak menganugerahkannya kepada orang lain. Dia telah berkenan mengaruniaimu keturunan, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Dia berkenan memberikanmu anak, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Renungkan apa yang diberikan-Nya kepada Rasul-Nya tentang hal itu, (artinya) "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS.ar-Ra'd:38) Nikmat mendapatkan anak merupakan nikmat yang besar, yang wajib disyukuri dan untuk melakukannya dituntut suatu perjuangan. Dan ini baru dalam satu nikmat yang faedahnya tidak terhingga banyaknya.

b.. Kedua, saat Dia menjadikan tanggung jawabmu atas anak-anak dan jihadmu dalam mendidik dan menumbuhkembangkan mereka sebagai salah satu pintu kebaikan bagimu di akhirat kelak, saat dan tempat Dia mengampunimu dan menambahkan pahala bagimu karenanya.

Anak Perempuan dan Pahala Besar ...

Masih saja ada wajah-wajah yang kecewa, cemberut, dan murung manakala mengetahui anak yang barusan lahir dari perut isterinya berkelamin perempuan padahal sejak awal, Islam telah mengharamkan kebiasaan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan yang dilakukan pada masa Jahiliah, dan mewajibkan berbuat baik kepada mereka. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah subhanahu wata'aala, (artinya) "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah."(QS.an-Nahl:58),

Qatadah berkata, "Ini adalah perangai orang-orang Musyrikin Arab, dan Allah subhanahu wata'aala memberitahukan kepadamu kebusukannya. Adapun seorang Mukmin, maka ia sungguh rela dengan apa yang telah diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Dan apa yang ditakdirkan baginya adalah lebih baik dari diri seseorang. Sungguh, aku tidak tahu, apa itu kebaikannya? Sungguh, betapa banyak bocah perempuan adalah lebih baik bagi keluarganya daripadabocah laki-laki. Bila Allah subhanahu wata'aala memberitakan kepadamu perangai mereka itu (orang-orang Musyrikin), maka hendaklah kamu jauhi dan berhenti darinya. Dulu, salah seorang dari mereka sudi memberi makan anjingnya namun tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya."

Orang yang bersedih karena kelahiran bayi perempuannya adalah orang yang tidak memahami bahwa Sang Pemberi anak laki-laki dan perempuan itu adalah Allah subhanahu wata'aala. Dia berfirman, "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS.asy-Syuro:49-50) Para ulama berkata, "Allah subhanahu wata'aala mengedepankan penyebutan perempuan atas laki-laki untuk memberikan karunia kepadanya (Perempuan). Karenanya, Dia memulai penyebutan diri perempuan sebelum laki-laki."

Mengenai betapa besar pahala yang diberikan kepada orangtua yang dianugerahi anak-anak perempuan, simak hadits yang diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani radhiallahu `anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Siapa saja yang memiliki tiga orang puteri, lalu bersabar, memberi makan, memberi minum dan memberi pakaian mereka dari hartanya, maka mereka kelak akan menjadi penghalang (tameng) baginya dari sentuhan api neraka." (Shahih al-Jami':534) Dalam hadits lain yang mirip dengan itu disebutkan, bahwa bukan hanya bagi yang memiliki tiga orang anak perempuan, bahkan seorang anak perempuan pun, bilamana ia memberikan tempat tinggal, mengasihi dan menanggung mereka, maka dipastikan ia masuk surga. (HR.Ahmad)

Berbahagialah karena mendapatkan rizki berupa anak-anak, yang merupakan kebaikan-kebaikan bagimu kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Bila kamu memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, niscaya mereka akanmenjadi anak-anak yang shalih lagi beriman. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya." (HR. Muslim).